Kamis, 31 Maret 2016

Orang Baru (KITA BELUM SEDEKAT NADI) PART 2

“Eh sorry”.
“Iyah kak gak apa apa.”
“kamu pegawai baru?”
“iyah kak, mohon bantuannya kak.”
“oh iyah, kalo saya bias akan saya bantu, maaf jangan panggil kak, kita mungkin masih seumuran. Nama kamu siapa? Nama ku didi.”
“oh iyah kak, eh di, heheheh…. Nama ku Reni.”
“Reni ya?? Halo Reni hahahah.”
“haloo,,, hahahahaha.”
“yaudah aku lanjut k ruangannya pak bos dulu, ada berkas yang di minta sama beliau.”
“oke di.”

--------------------------------------………………………………………………………….-------------------------------------------------
“Siang pak.”
“siang di. Masuk! Mana proposal yang saya minta?”
“ini pak.”
“oke saya terima. Oh ya untuk event bulan depan gimna??”
“ini untuk prepare dari mulai anggaran sampai kegiatannya udah siap 80% pak.”
“oke,, lanjutkan. Saya tunggu hasil positifnya.”
“siap pak! Saya kembali kemeja saya dulu pak.”
“iya, silakan.”

--------------------------------------------------…………………………………………………………---------------------------------------

“di, gua balik duluan…”
“oke hen, hati-hati.”
                Yah, malam ini begitu menyibukkan ku dari pagi Cuma wira wiri gak jelas ke ruang ini ke gedung ini. Yah mau gimna lagi ini nama juga tanggung jawab pekerjaan. Ayo Di tetap semangat bentar lagi kelar.

“loh kak didi belum pulang?”
“eh Reni, belum Ren, ini lagi di kejar deadline. Kamu sendiri kok belum pulang?”
“belum kak, ini hari pertamaku jadi kerjaan yang di berikan ke aku juga banyak. Lagian aku juga baru bekerja kak, jadi belum terbiasa dengan dunia kerja.
“lah?? Sebelumnya kamu ngapain?”
“yah kan sebelumnya aku masih sekolah. Baru lulus SMA kak.”
“oh… pantesan kok masih keliatan imut. Hehehehehe…. “
“hahahahah,,, kakak bias ajah kalo gombal.”
“loh kok gombal? Serius kok. Yauda Ren ini saya selesein dulu yah bentar lagi kelar. Nanti kita pulang bareng ajah, gak baik cewek pulang malam.”
“loh gpp ta kak pulang  bareng?”
“hahahaha,,, yah gpp, kenapa? Takut ketahuan pacarmu ya?? Hayoo ngaku??”
“ah kakak, aku gak punya pacar kak. Terakhir pacaran itu pas kelas 1 SMA kak. Setelah itu udah gak pengen pacaran dulu.”
“loh kenapa?”
“udah kak, ntar aja tak ceritain. Kalo tak ceritain sekarang kerjaan kakak gak selesai.”
“oh iya, yauda tak selesaiin dulu.”
“iyah kak, semangat yah kak. “
“siap Ren.”

                Oke,, jam 7 malam aku masih sibuk dengan komputerku. Semangat membara tentang  tanggung jawab yang membuatku ingin menyelesaikan pekerjaan ini. Malam ini mhanya terdengar suara keyboard dan mouse yang asik kumainkan tanpa henti. Kalo mereka bias bicara mungkin mereka sudah bilang kalo capek dan butuh istirahat. Malam ini serasa aku mendikte mereka begitu keras dari pagi tanpa henti jariku sangan lihai menri diatas mereka. Hingga sampai pada penghujung halaman pentup yang menunjukkan bahawa tugas saya mala mini telah selesai. File yang 100% complete ku simpan terlebih dahulu dalam PC ku agar esok bisa saya cetak untuk di laporkan kepada pak Bos.

“Ren, kamu masih disana?”
“haloo,, Reni. Haduh ternyata ketiduran.”
“Ada apa kak?”
“Ayo kamu ndak pulang?? Sudah mala mini.”
“emang jam berapa kak?”
“jam 10 lohhh, kamu gak di cariin ta??”
“hah?? Jam 10? Ayo kak cepet pulang.”
“yah ayooo,, aku ini nungguin kamu.”

                Langkah kami secara perlahan mulai berjalan keluar gerbang kantor. Terlihat langit sedikit tidak bersahabat dengan bintang atau pun bulan. Gelap dan gelap itulah cuaca langit malam ini. Mungkin dia sedang merenungkan hati yang sedang patah hati. Di perjalanan kita begitu asik mengobrol saring bercanda dan menceritakan kisah hidup kita. Walau kita baru kenal namun percakapan kami seolah sudah seperti orang yang saling kenal lama. Atau mungkin terlihat seperti sahabat.
                Tiba tiba hujan datang menghampiri langkah kita, menandakan bahwa langit memang sedang bersedih dan tak menghiraukan mahluk yang berada di bawhnya. Kami pun berteduh di depan ruko yang sudah tutp namun atapnya masih melbihkan diri untuk tempat kita berteduh.

“hujan Ren.”
“iyah kak,”
“kamu pulang malam gpp emangnya?”
“gak apa apa kak, tadi udah pamit kok.”
“map yah gara gara aku suruh kamu nungguin aku jadinya kayak gini, kitanya kehujanan.”
“hehehehe,,, gak papa kali kak,”
               
                Terlihat bahwa langit sangat lah bersedih tanpa istirahat dia menumpahkan semua kepedihannya jatuh ke bumi. Kami yang hanya seonggok kecil hanya bisa berteduh dan menunggu hujan bisa reda kembali. 

"tulilit,,, tulilittt,,, tulilittt,,,"
"kak hapenya bunyi tuh." Ucap Reni
"oh iya, siapa sih malam malam BBM."
 (melihat layar handphone)
"malam di, kamu dimana? kok seharian gak kontak aku?" BBM Ita. 



To Be Continue,,,,,

Rabu, 10 Februari 2016

MASIH TAKUT (KITA BELUM SEDEKAT NADI) PART 1



Malam ini seperti malam malam biasanya, sepulang kantor aku tak langsung pulang, melainkan lebih asik meluangkan waktu untuk mengobrol dan bermain game bersama teman teman kantorku. Yaps, terlalu asik aku bermain game kulihat waktu sudah menujukkan pukul 9 malam, aku pun langsung pamit kepada teman teman untuk pulang kerumah.
            “bro, gua balik dulu udah malem, takut kena begal, hehehehehe,,,”
            “eh luuu, mana ada yang mau begal luu, yang ada begalnya lari ketakutan ketemu elu.” Canda salah satu temanku Hendi.
            “hahahah,, yah sapa tau ada yang begal, hahaha, udah aku balik guys.”
            “oke, ati ati bro.” sahut mereka.

            Setelah keluar dari lift terdengar suara hape berbunyi, seperti ada pesan bbm dari seseorang, eh ternyata temen sekolah dulu.
            “Di, dimna?”
            “ini mau otw balik pulang, knpa rid?”
            “oh yawes, nanti aja pas kamu nyampek rumah.”
            “ok.”


-------------------------……………..------------------------------
            “assalamualaikum.”
            “waalaikumsalam.” Jawab ibu
            “loh bu belum tidur? Udah jam 10 loh.”
            “belum nak, nungguin kamu.”
            “loh ngapain se nungguin aku? Kan pulangku malem terus.”
            “yah kan ibu kawatir nak.”
            “hem, kalo capek ibu tidur ajah, gak usah nunggu didi pulang.”
            “iyah di, udah kamu mandi sana, ganti baju trus tidur, besok kerja lagi gitu.”
            “siap bu.”
            Ku letakkan tasku di dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi. Seusai mandi aku ingat kalo tadi rida bbm aku, jadi penasaran apa ada hal penting yang mau di sampaikan. Ku ambil hapeku dan segera ku hubungi rida.
            “ping!!! Rid, tadi kamu mau ngomong apa?”
            “eh di, iyah lupa, untung aku belum tidur.”
            “yawes ngomong apa? Ini aku juga barusan sampai rumah.”
            “minta WA mu, Ita minta.”
            “hah?? Ngapain? Buat apa?”
            “udahlah, mana no WAmu?”
            “hemm,,, yah no ku yang empati itu Waku.”
            “oalah, oke, makasih”
            “loh he? Udah gitu doang??”
            “iyah itu ajah.”
            “healah kirain ada apa gitu, yaweslah tiduro. Aku juga mau tidur.”
            “oyi.”
            3 hari berlalu setelah malam itu rida meminta nomerWAku buat Ita. Namun sampai sekrang tak ada WA masuk, sekalipun ada paling dari komunitasku.
            “Ping!!!” Rida.
            (eh ini anak, baru ajah di pikirin langsung ngeping.) “ada apa lagi? -,- ”
            “Ita uda nge WA kamu?”
            “belum, ndak ada WA sama sekali tuh.”
            “ndoh, coba kamu Wa deh dia.”
            “lah kok jadi aku yang nge WA?”
            “udah lah WA ajah.”
            “hem, yawes.”
           
            (dalam hati) “haduh ngapain se harus ngeWA lagi, ngechat lagi, takut baper lagi ini.”
            Setelah chat dengan rida itu, aku belum WA Ita sama sekali. Karna satu alasan “TAKUT”. Takut bila masalalu yang dulu terjadi kembali. Takut tiba tiba dia menghilang lagi. Takut hanya sebagai pelampiasan sesaat. Mungkin terlalu dramatis, tapi memang seperti nyatanya. Aku seorang laki laki yang mungkin temen kerja ku mengira aku homo. Kenapa mereka menyebutku homo, hanya satu alasan yaitu gua jomblo akut. Yang lama banget gak pernah dapet pacar/jodoh/pendamping hidup atau apalah itu. Setiap gua deket yang namanya cewek pasti tiba tiba cewek itu pergi. Gua heran apa emang wajah gue yang keterlaluan jelek. Atau merekanya yang takut kurang cantiik. Sampai dulu gua punya pacar yang mungkin gue pengen seriusin tapi hanya berjalan sekitar 3 bulan dia udah mainbelakang dengan cowok lain. Sakit bro yang namanya adi harus di selingkuhin oleh cewek. Dan sejak saat itu rasa untuk dapat pacar baru atau gandengan baru beitu berat. Hingga muncul yang namanya Ita ini bro. memang kita kenal mungkin hanya tiga bulan lah chatting lewat bbm, sms. Sekali gua kerumahnya yang pada saat itu gua bela belain habis piket malem dan nerus sampek siang. Pulang istirahat sekitar 1 jam dan langsung meluncur kerumahnya. Di perjalanan pun turun hujan walau hanya gerimis. Tapi tetap saja, perjalanan kerumahnya itu cukup jauh memakan hamper 1 jam perjalanan. Yah namanya usaha bro. oke gue tiba dan ngbrol ngobrol manis campur grogi sampai waktu mendekati malam dan gue pamit balik.
            Setelah itu gue masih rajin chattingan sama dia. Namun entah mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi kontak bbmnya dia di HPku lenyap. Padahal gue gak pernah hapu hapus kontakbbm orang. Apalagi yang sering berkomunikasi dengan gue. Coba gue sms juga gak ada balesan. Hingga akhir gua lari ke Rida langsung menyakan tentang Ita yang menghilang mendadak.
            “Rida, aku mau tanya.”
            “Apa Di?”
            “BBMku kok di DC sama Ita? Aku ada salah ta sama dia?”
            “hem, kamu belum tau ta?”
            “belum tau apa coba?”
            “Dia balikan sama mantannya.”
            “(jlebb) oh, yaudah kalo gitu.”
            Sakit bro, di tinggal balikkan sama mantannya. Yah tapi gimna lagi, sebagai lelaki sejati mah gak boleh ngerusak, harus neriman ing padu kalo kata orang jawa. Hari demi hari ku mencoba untuk lupa tentang kejadian itu yang mungkin memang akan selalu terbayang meski ngga selalu muncul di hidupku. Namun setelah satahun kenapa dia kembali muncul dalam kehidupanku? Rasa takut terbayang antara dua pilihan menghubunginya atau mengabaikannya. hingga jam diding mulai mengejekku karena aku hanya diam tak dapat melakukan apa apa. Ini bukan Didi yang cepat memilih pilihan,bukan Didi yang takut memilih. Hingga muncul pilihan untuk mencoba menghubunginya.
            “hallo.”
            “siapa yah?”
            “soleh neng.”
            “hahahahah, Alhamdulillah kalo anak soleh.”
            “bukan, ini Didi, hehehe.”
            “iyah, kok ganti nomernya?”
            “ho,oh, yang ini buat kerja, yang lama masih di pake kok.”
            “oalah, kayak teroris ajah nomernya banyak.”
            “hehehe, yah nggak lah, knapa kok aku di suruh hubungin kamu sama Rida?”
            “loh, nggak, sapa yang nyuruh, mesti rida itu.”
            “oh, dasar, dia selalu gtu, eh gimana kabarmu?”
            “baik kok.”
            Percakapan kami di pesan singkat terus berlanjut hingga berhari hari. Keakraban kita mulai tertata kembali yang dulu sempat hilang 1 tahun lalu. Entah perasaan apa, ini senang tapi juga takut. Senang karena bisa berkomunikasi denganya takut kejadian tahun lalu terulang. Yah di jalani saja, kalo kejadiannya terulang lagi berarti bukan jodohnya, tapi kalo terus akrab jangan sampai terputus.

Senin, 06 Juli 2015

HILANG



Cinta itu indah, cinta itu bahagia, cinta itu nyaman, namun terkadang cinta itu menyakitkan, menghancurkan, hingga menjadi benci. Ketika kita menjadi teman dan merasa nyaman berujung pada cinta tak lama munculnya orang ketiga yang akan menghancurkan kisah indah kita dengan dia. Kisah itu sudah sering sekali terjadi pada kehidupan kita, apalagi masa-masa remaja sangat indah dan menyenangkan.
            Kutarik lagi selimut tidurku hingga menutup kepalaku, tak ku hiraukan panggilan mama ku yang sudah setengah marah seperti ibu singa. Tak lama wajahku menjadi dingin dan agak basah seperti ada air yang jatuh dari atas genteng. Ku buka mataku ternyata mamaku sudah berada di sampingku dan bersiap menyiramkan air 1 ember ke wajahku. Dengan cepat aku langsung terbangun dan memberi isyarat ke mama bahwa aku sudah bangun.
            Hari ini adalah hari pertamaku sekolah setelah lama sekali libur. Di meja makan sudah tersedia tepak makan yang selalu di siapkan mamaku untuku yang dimna beliau tau kalo aku gak suka sarapan. Ku ayunkan tanganku ke mama menandakan aku ingin berpamitan untuk  berangkat sekolah. 15 menit dengan berjalan kaki aku sudah tiba di sekolahku tercinta.
            “Rud!!!”
            “Woee,, iya Dan.”
            Sapaan temanku sekaligus sahabatku terdengar. Rupanya di ingin mengajakku melihat siswa baru yang masuk di sekolah kita. Belum sempat ku “iya-kan” tanganku langsung di tarik dan di seret ke lapangan upacara. Dani mulai mensearching adek-adek yang cacat alias calon cantik serta sesekali menawarkanku. Maklum sejak pertama menginjak bangku SMK aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran ataupun cinta. Sibuknya Dani mencari cari adek kelas yang cantik, tiba tiba ada wanita yang mendatangiku. Wanita berperawakan kurus, dengan kulit sawo mateng, terlihat tomboy namun wajahnya begitu manis.
            “Kak,, boleh minta tanda tangannya??”
            “hah??” raut wajahku yang agak bingung.
            “iya kak,, aku minta tanda tangannya. Please!!! Aku ini di suruh samak kakak panitia.”
            “kenapa harus aku??”
            “ya mau sapa lagi?? Udahlah kak tanda tangan aja.”
            Tanpa bicara panjang aku langsung memberi tanda tangan kepada dia yang tak ku kenal siapa namanya.
            Satu bulan lamanya kejadian itu terjadi. Masih teringat jelas wajahnya yang meminta tanda tangan denga raut memelas. Kenapa aku selelau memikirkan dia sejak 1 bulan ini. Padahal aku Cuma satu kali bertemu dengan dia setelah itu pun aku gak pernah bertemu dengan dia lagi. Hari ini aku tak langsung pulng kerumah karena ada perkumpulan majalah sekolah yang sedang membahas terbitan majalah untuk bulan depan dan juga memperkenalkan anggota majalah dari kelas X.
            Tingg,,, tongggg,,
            Bel pulang berbunyi namun kelasku kali ini tak seindah kelas yang lain, kita harus merasakan pelajaran tambahan yang membosankan. Setengah jam berlalu pelajaran tambahan telah usai. Bisa di bilang aku terlambat setengah jam pada perkumpulan kali ini. Langkahku menggebu gebu selayak di kejar anjing liar yang sedang lapar. Nafas ngos-ngosan akhirnya aku tiba di ruangan jurnalis. Dengan langkah bersalah aku masuk keruang itu, ku hampiri guru pembinaku menjelaskan apa yang terjadi agar aku bisa di maafkan. Pembinaku memang sangatlah baik beliau mengizinkan untuk ikut  bergabung dalam forum kali ini. Aku mulai berbaur dan menyampaikan ide-ide yang kadang juga nyeleneh. Di tengah forum aku melihat seseorang yang tak asing seperti pernah ku lihat. Ternyata dia adik kelas yang dulu meminta tanda tanganku. Di sisa forum itu kupandangi wajah dia terus menerus heran kenapa dia berada disini.
            Forum selesai, di perjalanan pulang aku hampiri dia. Dari dekat dia sudah sangat berbeda, wajahnya sangat begitu manis.
            “Ada apa kak??”
            “oh,, nggk dek, masih inget aku??”
            “hemm,,, bentar ku ingat dulu kak, oh iya kakak yang waktu itu aku mintain tanda tangan di pinggir lapangan upacara kan kak??”
            “iyah dek bener.’
            “ada apa kak??”
            “nggk ada  apa apa sih, Cuma mau kenalan, masa dulu minta tanda tangan ke aku gak kenalan sekalian.”
            “hehehe,,, maaf kak, nama ku Liyah kak, kakak namanya siapa??”
            “nama ku Rudi.”
            “hai kak Rudi J, sudah dulu yah kak, aku mau main basket.”
            “oh,, iya dek.”
            Pertemuan singkat namun semua itu adalah awal kisah cintaku yang rumit di mulai.
            Ku jalani hari hariku di sekolah seperti biasanya, namun ada bumbu special yang yg membuat hidupku di kelas begitu indah. Liyah, dia adalah pelengkap bumbu itu. Sudah 3 bulan kita berteman akhirnya kita menjalin hubungan khusus kalo orang bilang sih pacaran. Namun aku gak ngerti apa hubungan ini, yang pasti tiap pagi, tiap jam istirahat hingga jam pulang aku dan dia selalu bersama saling mengobrol dan becanda. Hubungan ini berlangsung hingga dia meninjak kelas 2 dan aku menginjak kelas 3. Masalah pun sering bermunculan mengganggu hubunganku dan dia. Hingga suatu ketika aku dekat dengan adik kelas 1 yang baru sebulan sekolah disini.
            Aku berfikir liyah tidak akan marah saat aku dekat dengan dia, toh aku dan dia hanya berbagi ilmu karena kita satu jurusan. Namun ternyata semua pemikiranku salah, liyah ternyata marah besar. Aku coba hampiri kos-kosan tepat dia tinggal, kutenangkan dia. Tak lupa ucapan map terus aku lontarkan kedia, berharap dia akan memaafkanku. Rayuanku dan ucapan maafku berhasil, dia tak lagi marah kepadaku. Tapi dengan syarat aku tidak boleh lagi berhubungan dengan Ika.
            Di keesokan harinya aku mulai kegiatanku di sekolah, tak lupa ku antarkan liyah masuk kekelasnya sebelum aku msuk kekelasku sendiri.
            “Sayang sampai sini ajah nganternya.” Jawab liyah di depan pintu kelas
            “Oke saying, aku langsung ke kelas aja ya kalo gitu, mau ada ulangan nih.”
            “Sip, hati-hati, jangan nakal loh.”
            “beres.”
            Aku pun segera menuju ruang kelasku yang cukup jauh dari kelas dia. Setiba di dekat kelas ada suara seorang wanita yang sedang memanggilku dengan sebutan kakak.
            “kakak Rudi”
            “iyah? (sambal menoleh), oalah Ika toh, ada apa Ka?”
            “ini kak aku mau tanya pelajaran ini, bingung nih.”
            “oke kakak ajarin, tapi bentar yah.”
            Kami pun asik belajar bersama dan saling beragument tentang pendapat masing masing. Di sela obrolan kami ada sesosok orang yang memandangi kami dari jauh seolah sedang mengawasi kami. Sedikit curiga aku pun langsung mencoba menghampiri orang itu. Mengetahui aku akan menghampirinya dia pun malah berlari pergi menjauh dari pandanganku. Aku pun ikut berlari berusaha untu mengejarnya, tak lama aku pun bisa menangkapnya. Saat ku lihat ternyata dia adalah Liyah dengan mata berkaca kaca. Aku bingung aku berbuat apa, aku sudah janji tidak akan berhubungan dengan Ika lagi. Tapi aku tadi malah asik berargument dengan Ika begitu santai. Diriku hanya pasrah dan mencoba menjelaskan semua yang terjadi. Aku tidak berharap Liyah akan percaya dengan argumentku. Semua itu berlangsung begitu lama. Liyah tak kunjung usai menangis. Aku hanya duduk terdiam di sampingnya berharap dia memaafkanku dan berhenti menangis.
            “saying kita udahan yah?” ucap Liyah
            “loh knap? Aku kan udah bilang jujur?”
            “iyah ucapanmu jujur, tapi perkataanmu yang semalem membuktikan bahawa kamu belim bisa aku percaya.”
            “tapi.”
            “tapi apa?? Udah cukup jelaskan, kamu bilang gak akan berhubungan lagi, tapi nyatanya tadi?”
            “loh iyah aku cuma”.
            “Cuma belajar bareng gitu ta?”.
            “iyah, Cuma belajar bareng”.
            “belajar bareng tapi kok Cuma berdua, temannya yang lain kemana kok gak ikut belajar juga? Aku hanya mau aku merenungkan kesalahanmu.”
            “merenungkan gimna?”
            “udah kamu renungkan dulu kalo sudah tau kembalilah kepadaku, aku akan menunggumu selalu.”
            “eh merenungkan apa?”
            “udah coba di pahami saja kejadian yang sudah terjadi. Aku mau masuk kelas dulu.”
            Liyah pergi meninggalkanku seketika itu hatiku terasa hancur. Semua masih meninggalkan tanda Tanya tentang kepergian Liyah di kehidupanku. Kehidupanku kembali seperti 1 tahun yang lalu begitu sepi. Bahkan Liyah tak lagi menampakan dirinya di ruang jurnalis maupun menemuiku. Tiap kali aku datang kekelas dan hendak bertemu denganya temannya selalu bilang Liyah tidak mau menemuiku. Liyah adalah cinta pertamaku dan aku berharap dia akan menjadi cinta terakhirku juga. Tapi apalah daya aku sekarang hanyalah sebuah figuran dalam kehidupan dia. Hanya sebuah bayangan yang akan meredup dengan seiringnya waktu berlalu.