Senin, 06 Juli 2015

HILANG



Cinta itu indah, cinta itu bahagia, cinta itu nyaman, namun terkadang cinta itu menyakitkan, menghancurkan, hingga menjadi benci. Ketika kita menjadi teman dan merasa nyaman berujung pada cinta tak lama munculnya orang ketiga yang akan menghancurkan kisah indah kita dengan dia. Kisah itu sudah sering sekali terjadi pada kehidupan kita, apalagi masa-masa remaja sangat indah dan menyenangkan.
            Kutarik lagi selimut tidurku hingga menutup kepalaku, tak ku hiraukan panggilan mama ku yang sudah setengah marah seperti ibu singa. Tak lama wajahku menjadi dingin dan agak basah seperti ada air yang jatuh dari atas genteng. Ku buka mataku ternyata mamaku sudah berada di sampingku dan bersiap menyiramkan air 1 ember ke wajahku. Dengan cepat aku langsung terbangun dan memberi isyarat ke mama bahwa aku sudah bangun.
            Hari ini adalah hari pertamaku sekolah setelah lama sekali libur. Di meja makan sudah tersedia tepak makan yang selalu di siapkan mamaku untuku yang dimna beliau tau kalo aku gak suka sarapan. Ku ayunkan tanganku ke mama menandakan aku ingin berpamitan untuk  berangkat sekolah. 15 menit dengan berjalan kaki aku sudah tiba di sekolahku tercinta.
            “Rud!!!”
            “Woee,, iya Dan.”
            Sapaan temanku sekaligus sahabatku terdengar. Rupanya di ingin mengajakku melihat siswa baru yang masuk di sekolah kita. Belum sempat ku “iya-kan” tanganku langsung di tarik dan di seret ke lapangan upacara. Dani mulai mensearching adek-adek yang cacat alias calon cantik serta sesekali menawarkanku. Maklum sejak pertama menginjak bangku SMK aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran ataupun cinta. Sibuknya Dani mencari cari adek kelas yang cantik, tiba tiba ada wanita yang mendatangiku. Wanita berperawakan kurus, dengan kulit sawo mateng, terlihat tomboy namun wajahnya begitu manis.
            “Kak,, boleh minta tanda tangannya??”
            “hah??” raut wajahku yang agak bingung.
            “iya kak,, aku minta tanda tangannya. Please!!! Aku ini di suruh samak kakak panitia.”
            “kenapa harus aku??”
            “ya mau sapa lagi?? Udahlah kak tanda tangan aja.”
            Tanpa bicara panjang aku langsung memberi tanda tangan kepada dia yang tak ku kenal siapa namanya.
            Satu bulan lamanya kejadian itu terjadi. Masih teringat jelas wajahnya yang meminta tanda tangan denga raut memelas. Kenapa aku selelau memikirkan dia sejak 1 bulan ini. Padahal aku Cuma satu kali bertemu dengan dia setelah itu pun aku gak pernah bertemu dengan dia lagi. Hari ini aku tak langsung pulng kerumah karena ada perkumpulan majalah sekolah yang sedang membahas terbitan majalah untuk bulan depan dan juga memperkenalkan anggota majalah dari kelas X.
            Tingg,,, tongggg,,
            Bel pulang berbunyi namun kelasku kali ini tak seindah kelas yang lain, kita harus merasakan pelajaran tambahan yang membosankan. Setengah jam berlalu pelajaran tambahan telah usai. Bisa di bilang aku terlambat setengah jam pada perkumpulan kali ini. Langkahku menggebu gebu selayak di kejar anjing liar yang sedang lapar. Nafas ngos-ngosan akhirnya aku tiba di ruangan jurnalis. Dengan langkah bersalah aku masuk keruang itu, ku hampiri guru pembinaku menjelaskan apa yang terjadi agar aku bisa di maafkan. Pembinaku memang sangatlah baik beliau mengizinkan untuk ikut  bergabung dalam forum kali ini. Aku mulai berbaur dan menyampaikan ide-ide yang kadang juga nyeleneh. Di tengah forum aku melihat seseorang yang tak asing seperti pernah ku lihat. Ternyata dia adik kelas yang dulu meminta tanda tanganku. Di sisa forum itu kupandangi wajah dia terus menerus heran kenapa dia berada disini.
            Forum selesai, di perjalanan pulang aku hampiri dia. Dari dekat dia sudah sangat berbeda, wajahnya sangat begitu manis.
            “Ada apa kak??”
            “oh,, nggk dek, masih inget aku??”
            “hemm,,, bentar ku ingat dulu kak, oh iya kakak yang waktu itu aku mintain tanda tangan di pinggir lapangan upacara kan kak??”
            “iyah dek bener.’
            “ada apa kak??”
            “nggk ada  apa apa sih, Cuma mau kenalan, masa dulu minta tanda tangan ke aku gak kenalan sekalian.”
            “hehehe,,, maaf kak, nama ku Liyah kak, kakak namanya siapa??”
            “nama ku Rudi.”
            “hai kak Rudi J, sudah dulu yah kak, aku mau main basket.”
            “oh,, iya dek.”
            Pertemuan singkat namun semua itu adalah awal kisah cintaku yang rumit di mulai.
            Ku jalani hari hariku di sekolah seperti biasanya, namun ada bumbu special yang yg membuat hidupku di kelas begitu indah. Liyah, dia adalah pelengkap bumbu itu. Sudah 3 bulan kita berteman akhirnya kita menjalin hubungan khusus kalo orang bilang sih pacaran. Namun aku gak ngerti apa hubungan ini, yang pasti tiap pagi, tiap jam istirahat hingga jam pulang aku dan dia selalu bersama saling mengobrol dan becanda. Hubungan ini berlangsung hingga dia meninjak kelas 2 dan aku menginjak kelas 3. Masalah pun sering bermunculan mengganggu hubunganku dan dia. Hingga suatu ketika aku dekat dengan adik kelas 1 yang baru sebulan sekolah disini.
            Aku berfikir liyah tidak akan marah saat aku dekat dengan dia, toh aku dan dia hanya berbagi ilmu karena kita satu jurusan. Namun ternyata semua pemikiranku salah, liyah ternyata marah besar. Aku coba hampiri kos-kosan tepat dia tinggal, kutenangkan dia. Tak lupa ucapan map terus aku lontarkan kedia, berharap dia akan memaafkanku. Rayuanku dan ucapan maafku berhasil, dia tak lagi marah kepadaku. Tapi dengan syarat aku tidak boleh lagi berhubungan dengan Ika.
            Di keesokan harinya aku mulai kegiatanku di sekolah, tak lupa ku antarkan liyah masuk kekelasnya sebelum aku msuk kekelasku sendiri.
            “Sayang sampai sini ajah nganternya.” Jawab liyah di depan pintu kelas
            “Oke saying, aku langsung ke kelas aja ya kalo gitu, mau ada ulangan nih.”
            “Sip, hati-hati, jangan nakal loh.”
            “beres.”
            Aku pun segera menuju ruang kelasku yang cukup jauh dari kelas dia. Setiba di dekat kelas ada suara seorang wanita yang sedang memanggilku dengan sebutan kakak.
            “kakak Rudi”
            “iyah? (sambal menoleh), oalah Ika toh, ada apa Ka?”
            “ini kak aku mau tanya pelajaran ini, bingung nih.”
            “oke kakak ajarin, tapi bentar yah.”
            Kami pun asik belajar bersama dan saling beragument tentang pendapat masing masing. Di sela obrolan kami ada sesosok orang yang memandangi kami dari jauh seolah sedang mengawasi kami. Sedikit curiga aku pun langsung mencoba menghampiri orang itu. Mengetahui aku akan menghampirinya dia pun malah berlari pergi menjauh dari pandanganku. Aku pun ikut berlari berusaha untu mengejarnya, tak lama aku pun bisa menangkapnya. Saat ku lihat ternyata dia adalah Liyah dengan mata berkaca kaca. Aku bingung aku berbuat apa, aku sudah janji tidak akan berhubungan dengan Ika lagi. Tapi aku tadi malah asik berargument dengan Ika begitu santai. Diriku hanya pasrah dan mencoba menjelaskan semua yang terjadi. Aku tidak berharap Liyah akan percaya dengan argumentku. Semua itu berlangsung begitu lama. Liyah tak kunjung usai menangis. Aku hanya duduk terdiam di sampingnya berharap dia memaafkanku dan berhenti menangis.
            “saying kita udahan yah?” ucap Liyah
            “loh knap? Aku kan udah bilang jujur?”
            “iyah ucapanmu jujur, tapi perkataanmu yang semalem membuktikan bahawa kamu belim bisa aku percaya.”
            “tapi.”
            “tapi apa?? Udah cukup jelaskan, kamu bilang gak akan berhubungan lagi, tapi nyatanya tadi?”
            “loh iyah aku cuma”.
            “Cuma belajar bareng gitu ta?”.
            “iyah, Cuma belajar bareng”.
            “belajar bareng tapi kok Cuma berdua, temannya yang lain kemana kok gak ikut belajar juga? Aku hanya mau aku merenungkan kesalahanmu.”
            “merenungkan gimna?”
            “udah kamu renungkan dulu kalo sudah tau kembalilah kepadaku, aku akan menunggumu selalu.”
            “eh merenungkan apa?”
            “udah coba di pahami saja kejadian yang sudah terjadi. Aku mau masuk kelas dulu.”
            Liyah pergi meninggalkanku seketika itu hatiku terasa hancur. Semua masih meninggalkan tanda Tanya tentang kepergian Liyah di kehidupanku. Kehidupanku kembali seperti 1 tahun yang lalu begitu sepi. Bahkan Liyah tak lagi menampakan dirinya di ruang jurnalis maupun menemuiku. Tiap kali aku datang kekelas dan hendak bertemu denganya temannya selalu bilang Liyah tidak mau menemuiku. Liyah adalah cinta pertamaku dan aku berharap dia akan menjadi cinta terakhirku juga. Tapi apalah daya aku sekarang hanyalah sebuah figuran dalam kehidupan dia. Hanya sebuah bayangan yang akan meredup dengan seiringnya waktu berlalu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar